
Kholidil Amin adalah Assistant Professor pada Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro (UNDIP). Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Unit Layanan Publikasi Bereputasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UNDIP) serta sebagai Managing Editor South Sight: Journal of Media and Society Inquiry. Ia juga merupakan anggota Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI).
Sebelumnya, Amin pernah menjabat sebagai Managing Editor ProTVF dan Comdent, jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah mengajar sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Politeknik Statistika STIS. Di luar dunia akademik, Amin pernah menjabat sebagai Head of International Development di Indonesia Medika serta sebagai asisten tenaga ahli komunikasi yang mendukung pelaksanaan tugas Satuan Tugas Nasional Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia.
Amin memperoleh gelar Magister Ilmu Komunikasi (M.I.Kom.) dengan konsentrasi Komunikasi Kesehatan dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2022 dan lulus dengan predikat summa cum laude melalui dukungan Beasiswa LPDP. Ia memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.) dengan konsentrasi Hubungan Masyarakat dari Universitas Brawijaya pada tahun 2018 dan lulus dengan predikat magna cum laude melalui dukungan beasiswa dari Pemerintah Indonesia.
Kholidil Amin memiliki minat penelitian pada komunikasi risiko yang berkaitan dengan isu kesehatan dan lingkungan dalam kerangka One Health. Secara khusus, ia meneliti bagaimana efek media, strategi komunikasi, dan perilaku informasi membentuk persepsi risiko, sikap, serta respons perilaku individu. Fokus penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan wawasan praktis dalam memperkuat literasi kesehatan dan lingkungan, terutama dengan mengkaji bagaimana informasi risiko dibingkai dan dikomunikasikan, saluran media apa yang paling efektif, serta sumber dan komunikator mana yang dipersepsikan kredibel oleh publik.
Dengan komitmen yang kuat terhadap pengembangan komunikasi sains, Amin juga tertarik mengeksplorasi faktor-faktor psikososial yang mendorong ilmuwan untuk terlibat dengan publik dan berperan sebagai intelektual publik yang menjembatani kesenjangan antara sains dan masyarakat. Komunikasi sains yang efektif penting untuk memperkuat literasi sains publik serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap misinformasi dan disinformasi, khususnya dalam isu kesehatan dan lingkungan.